Rabu, 27 November 2013

Rukhshoh Air Bekas Bersucinya Wanita



Oleh: Najwa Tsurayya

A.   Matan Hadits
حدثنا قتيبة حدثنا أبو الأحوص عن سماك بن حرب عن عكرمة عن ابن عباس قال : اغتسل بعض أزواج النبي صلى الله عليه و سلم في جفنة فأراد رسول الله صلى الله عليه و سلم أن يتوضأ منه فقالت يا رسول الله إني كنت جنبا فقال إن الماء لا يجنب[1] [2]

Dari Qutaibah dari Abu Al Ahwas dari As Samak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata: “Sebagian istri Nabi SAW (Maimunah RA) mandi janabah dari sebuah bejana. Kemudian Nabi datang untuk bersuci dengan air itu, maka Mimunah berkata: “sungguh air itu bekasku mandi janabah”. Maka Nabipun bersabda: “Sesungguhnya air itu terkena junub”.[3]

B.   Asbabul Wurud
Dari Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa salah seorang istri Nabi SAW (Maimunah RA) mandi janabah dari sebuah bejana. Dan di bejana itu terdapat sisa air, karena banyaknya air yang di dalam bejana. Kemudian Nabi datang untuk bersuci dengan air itu, maka Mimunah berkata: “sungguh air itu bekasku mandi janabah”. Maka Nabipun bersabda: “Sesungguhnya air itu terkena junub”.

C.   Derajat  Hadits
Abu Isa berkata: “Hadits hasan shohih” Ini adalah pendapat Sufyan Ats Tsuri, Imam Malik, dan Imam Syafi’i.
Dan menurut syaikh Al Albani hadits ini shohih
D.   Syarh hadit


Ø  (اغتسل بعض أزواج النبي - صلى الله عليه وسلم - ): Ad Daruquthni meriwayatkan bahwa dia adalah Maimunah bibi Ibnu Abbas.
Ø  (في جفنة):Memasukkan tangan kedalam tempat air yang besar.
Ø  (أن يتوضأ منه): Nabi ingin berwudhu dari sisa air yang di tempat tadi.
Ø  (إني كنت جنباً): Maimunah mengatakan, “Ini adalah bekas mandi janabahku” maksudnya bekas tangan Maimunah megambil air .
Ø  (إن الماء لا يجنب): Sesungguhnya air itu tidak menjadi najis dengan mandi janabahnya seseorang dari tempat air tersebut.

Sesungguhnya air yang mulanya suci tidak menjadi najis ketika telah dipakai untuk mandi janabah, selama tidak terlihat bekas atau tanda-tanda najis di air tersebut.
Sesungguhya jika tangan orang yang junub dicelupkan kedalam air yang suci, air itu tetap suci. Hadits ini menunjukkan bahwa bolehnya wudhu dengan air bekas wanita bersuci. Sedangkan perkataan Maimunah “sesungguhnya ini bekasku mandi janabah” menunjukkan bahwa dulu hal ini dilarang. Dan hadits yang membolehkan berwudhu dengan air bekas wanita mandi janabah menasakh hadits yang melarang hal itu.[4]

E.   Faidah Hadits
Ø  Bolehnya berwudhu dengan air bekas wanita mandi janabah.
Ø  Perintah yang datang setelah larangan  menunjukkan kebolehan.


[1] HR. Ahmad dan Tirmidzi
[2] Kitab sunan At Tirmidzi
[3] HR. Ahmad dan Tirmidzi
[4] Mur’atul Mafatih Syarhu Misykatul Mashobih

Senin, 25 November 2013

Hukum Buang Air Menghadap Kiblat



Oleh: Najwa Tsurayya
  1. Matan Hadits
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا قَالَ أَبُو أَيُّوبَ فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ الْقِبْلَةِ فَنَنْحَرِفُ وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى(رواه البخاري)[1]

Artinya: Dari Ali bin Abdullah dari Sufyan dari Az- Zuhry dari Atho’  bin Yazid Al-laitsiy dari Abu Ayub Al-Anshory  bahwasanya nabi r bersabda: “Jika kalian mendatangi tempat buang air, maka janganlah buang hajat dan kencing dengan menghadap kiblat akan tetapi menghadaplah kearah timur atau kebarat.”
Abu Ayub berkata: “Kami pernah datang ke Syam, maka kami melihat toiletnya dibangun menghadap kiblat sehinga kami memalingkannya dan memohon ampun kepada Allah Ta’ala.(HR. Bukhori)
  1. Derajat Hadits
Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih.[2]

  1. Syarh Hadits
الغائط     :Tempat yang tenang dari sebagian tanah dan menjadikan maksud  untuk Qodo’ hajat
مراحيض     : jamak dari mirhat, yaitu tempat mandi
شرقوا أو غربوا     : barat dan timur

Rosulullah r  memberikan petunjuk tentang adab membuang hajat dengan tidak menghadap kiblat, yaitu ka’bah. Dan tidak membelakanginya dalam keadaan buang hajat dikarnakan kiblat tempat yang dimuliakan dan disucikan. Dan bagi mereka yang berpaling dan timur dan barat, apabila timur atau barat tidak ,menghadap padanya seperti kiblatnya ahlu madinah.[3]
Dan ketika para sahabat mereka segera menerima kebenaran perintah dari Rosulullah r. Abu ayub menyebutkan sesunguhnya mereka pernah mendatangi syam dan didapati padanya tempat mandi untuk membuang hajat, dan dibangun menghadap ka’bah. Maka mereka langsung memalingkan diri dari kiblat, akan tetapi kejadian mereka ini dikarnakan lupa dalam menghadap kiblat yang dikiranya, merekapun langsung berpaling dan mereka memohon ampun kepada Alloh atas kelalaian mereka.[4]
Namun jika kita melihat hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar yang artinya:
 “Aku pernah naik ke rumah Hafshah radhiallahu’anha, aku melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sedang buang hajat menghadap Syam dan membelakangi ka’bah”(HR. Muttafaq ‘Alaih)[5] maka kita akan mendapati seolah-olah kedua hadits diatas saling bertentangan.
Ada beberapa pendapat ulama’ dalam menanggapi hal ini:
a)      Ulama’ yang mengharamkan secara muthlaq. Ini adalah pendapat Ibnu Hazm Adh Dhohiri, dan pendapat inilah yang dipilih oleh syaikhul islam Ibnu Taimiyah,beliau berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ayub.
b)      Ulama’yang membolehkan secara muthlaq. Ini adalah pendapat Urwah bin Zubair, Robi’ah dan Dawud Adh Dhohiri, mereka berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas diatas
c)      Ulama’ yang berpendapat boleh tidak boleh ketika di tempat terbuka, dan diperbolehkan di dalam bangunan. Ulama’ yang berpendapat ini diantaranya, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Asy-Sya’bi, dan lain-lain. Dan pendapat inilah yang lebih rojih.[6] Madzhab ini menggabungkan nash-nash yang ada.
d)     Pendapat terakhir adalah makruh. Ini adalah pendapat Ash Shon’ani.[7]


  1. Kesimpulan Hadits
Setelah pembahasan diatas maka bisa diambil kesimpulan sebagai berikut:
a)      Larangan menghadap kiblat dan membelakanginya dalam keadaan buang hajat.
b)      Memuliakan ka’bah sebagai kiblat kaum muslimin.
c)      Larangan ini berlaku jika berada di tempat terbuka, sedang kan jika dilakukan di sebuah bangunan.

Wallahu a’lam bish showab

            Referensi:
Ø  Umdatul Ahkam, Syaikh Abdul Ghoni Al Maqdisi.
Ø  Az Zuhaili, Doktor Wahbah (2005). Alwajiiz fii fiqhil islaamiy 1. Damaskus, Darul Fikr.
Ø  Al-Albani, Syaikh Nashiruddin. Shohih wa dho’if Abbi Dawud. Al Iskandariah, Markaz Nurul Islam.
Ø  Ali Bassam, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman (2006) Taisiirul ‘allam syarh ‘umdatul ahkam. Libanon, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah.



[1] Shohih Bukhori (qiblatu ahlu Madinah wa ahlu Syam) juz 2, hal 153
[2]Shohih wa dhoif Abu Dawud bab 87, juz 1, hal. 87
[3] Taisiirul allam (bab dukhuulul kholaa’ wal istithobah) hal 29
[4] Ibid
[5] Ibid, hal. 30
[6] ibid
[7] Ibid, hal 31

Minggu, 24 November 2013

Ummul Masakin, Ibunda Zainab Binti Khuzaimah Radhiallahu’anha


Ketika dinikahi oleh Rasulullah, ibunda Zainab binti Khuzaimah radhiallahu’anha dalam keadaan janda dari Ubaidah bin Harits, anak paman Rasululullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam. Ubaidah adalah salah seorang prajurit penunggang kuda yang paling perkasa setelah Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abi Thalib.
Nama lengkap beliau adalah Zainab binti Khuzaimah bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al Hilaliyah. Ibunya bernama Hindun binti Auf bin Harits bin Hamathah.
Beliau termasuk kelompok orang yang masuk Islam pertama kali dari golongan wanita. Beliau memang bukan seorang yang berwajah cantik dan disebutkan bahwa beliau adalah seorang wanita yang lemah dan terjangkit penyakit. Sebagaimana dituturkan oleh sang suami yang sedang bersedih disaat akan meninggalkannya. Pada saat Ubaidah bin Harits akan meninggal dunia, tiba-tiba air matanya meleleh; sehingga para sahabat bertanya kepadanya: “Kenapa engkau menangis wahai Ubaidillah? Padahal Allah Subhanahuwata’ala sudah menjanjikan kepada kita dua kebaikan: kemenangan dan syahid?”. Ubaidah berkata, “Aku teringat akan istriku, Zainab binti Khuzaimah, apa yang akan terjadi padanya setelah aku meninggal. Aku menangis karenanya, dia adalah wanita yang lemah dan dia terjangkit penyakit.”
Tetapi, di balik kelemahan beliau, Ibunda Zainab binti Khuzaimah mempunyai sifat yang mulia, yaitu belas kasihan dan kasih sayang terhadap orang-orang miskin. Sebagaimana dikatakan Az-Zuhri bahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa Salam menikah dengan Zainab binti Khuzaimah, dia adalah Ummul Masakin atau ibunya orang-orang miskin; diberikan julukan seperti itu karena beliau banyak memberikan makanan kepada orang-orang miskin. Dan julukan ini telah beliau dapatkan sejak jaman jahilyyah.
Keadaan beliau yang janda dengan segala apa yang beliau derita inilah yang mendorong Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Salam untuk menikahinya. Sebagai bentuk penghormatan baginya dan balasan atas kesabarannya dan kebaikan hatinya serta tentang kecintaannya kepada Allah Subhanahu wata’ala, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa salam dan kaum miskin.
Tidak banyak cerita tentang rumah tangga Ibunda Zainab binti Khuzaimah dengan Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Salam, karena rumah tangga ini berlangsung dalam waktu yang tidak lama, ada banyak pendapat mengenai lamanya pernikahan ini, yaitu sekitar 4-8 bulan. Hal ni disebabkan karena Allah telah memanggil Ibunda Zainab dalam waktu yang masih muda. Beliau meninggal di saat Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Salam masih hidup. Rasulullah yang telah menshalatinya dan beliaulah yang pertama kali dimakamkan di Baqi.